Skip to content
··3 menit baca

Affiliate marketing dalam konteks Singapura

Saya membahas mengapa affiliate marketing, model berbasis kinerja di mana pengiklan membayar hanya saat konversi terjadi, masih belum dimanfaatkan optimal oleh banyak perusahaan besar di Singapura.

Posting ini ditulis pada tahun 2007. Beberapa detail mungkin sudah berubah sejak saat itu.

Halo teman-teman,

Terinspirasi artikel yang baru saya baca tentang model CPA Google, saya mendedikasikan post ini untuk membahas Affiliate Marketing dalam konteks Singapura.

Ini juga menjadi post terakhir dari seri pengantar berbagai channel online yang bisa dipakai pengiklan untuk mencapai objektifnya di Singapura dan Asia Tenggara.

Topik yang dibahas:

  • Apa itu Affiliate Marketing?
  • Tahap perkembangan Affiliate Marketing di Singapura

Sebelum mulai, jika Anda ingin membaca rilis resmi Google tentang model Pay Per Action, link-nya saya sertakan.

1. Apa itu Affiliate Marketing

Secara sederhana, Affiliate Marketing adalah aktivitas online marketing di mana pengiklan membayar affiliate (publisher web independen) sejumlah uang untuk mendatangkan traffic, leads, conversion, atau sales ke website pengiklan.

Pengiklan adalah perusahaan/individu yang memiliki produk atau layanan untuk dijual. Mereka ingin mendapatkan lebih banyak pelanggan, baik lewat toko fisik maupun website. Dalam konteks online, ini berarti pengiklan ingin lebih banyak traffic yang relevan serta lebih banyak konversi melalui website.

Karena itu, pengiklan mengumumkan ke affiliate bahwa mereka akan membayar sejumlah komisi/bounty untuk setiap sales/lead/conversion yang berhasil didorong affiliate ke website mereka.

Contoh: jika saya perusahaan kartu kredit, saya bisa menawarkan ke affiliate bahwa mereka perlu membawa user ke website saya. Jika user tersebut mendaftar kartu kredit, saya akan membayar affiliate misalnya $5 hingga $50 (tergantung skema).

Kelebihan model ini (tidak terbatas pada daftar ini):

  • Sangat minim risiko untuk pengiklan karena pembayaran dilakukan saat konversi benar-benar terjadi.
  • Pengiklan hanya membayar jumlah yang menurut mereka wajar untuk tiap konversi tambahan.
  • Dalam digital marketing, ini disebut "Pay Per Action", dan komisinya disebut Cost Per Action atau CPA.

Sekarang Anda bisa paham kenapa Google menyebut model pricing baru itu sebagai model CPA.

Namun model CPA juga punya tantangan, misalnya:

  • Pengiklan tidak selalu tahu siapa affiliate-nya.
  • Affiliate tidak selalu tahu pengiklan mana yang memberi komisi terbaik per produk.
  • Pengiklan butuh teknologi tracking untuk memastikan konversi berasal dari affiliate tertentu, bukan dari campaign internal atau affiliate lain.

2. Affiliate Marketing dalam konteks Singapura

Affiliate Marketing cukup umum di kalangan internet marketer individu di Singapura, terutama karena makin banyak workshop tentang internet marketing dan monetisasi website.

Namun para internet marketer ini pada saat itu kebanyakan bergerak individual dan belum banyak terintegrasi dengan perusahaan besar di Singapura.

Setahu saya saat itu, hanya 1-2 perusahaan di Singapura yang menawarkan solusi affiliate marketing untuk pengiklan besar.

Mengapa affiliate marketing belum populer di level marketing manager/director perusahaan besar? Beberapa alasan yang cukup jelas:

  • Industri online marketing Singapura saat itu masih tahap awal.
  • Teknologi yang dibutuhkan untuk mengelola relasi pengiklan-affiliate dengan mulus cukup mahal dikembangkan.
  • Kekurangan expertise affiliate marketing di banyak agensi (di luar beberapa pemain khusus).

Terlepas dari tantangan itu, saya percaya industri akan bergerak perlahan menuju model performance-based (Cost Per Acquisition/affiliate marketing), seperti di AS, Eropa, dan pasar matang lainnya.

Akan datang masa di mana pengiklan bisa mendefinisikan dan mengukur secara presisi berapa nilai tiap pengunjung online bagi bisnis mereka.

Tetapi saya tetap menekankan: pemenangnya adalah pihak yang memakai pendekatan holistik dalam online advertising. Alasannya sederhana: meskipun conversion rate Paid Search (PPC) biasanya tinggi dan ROI tampak bagus, calon pembeli sering terpapar brand dari banyak sumber sebelum akhirnya konversi.

Mereka bisa melihat brand saat membaca berita, melihat banner, membandingkan produk, dan seterusnya, lalu baru melakukan pencarian di Google sebagai langkah akhir funnel. Hal yang sama berlaku untuk brand awareness.

Pendekatan interaktif dan holistik yang mendorong partisipasi audiens jauh lebih penting daripada hanya menghabiskan budget di satu channel dan berharap hasil maksimal.

Lalu bagaimana pengiklan mengetahui alur ini? Jawabannya: gunakan tracking tool yang canggih dan ter-customize.

Itu penutup untuk bagian Affiliate Marketing di Singapura. Anda mungkin melihat saya sengaja meninggalkan beberapa detail karena keterbatasan waktu.

Selamat akhir pekan, Chandler

Lanjutkan Membaca

Perjalanan Saya
Terhubung
Bahasa
Preferensi