Skip to content
··2 menit baca

Online Marketing untuk Manajer: How-to 101

Banyak marketing manager masih mengandalkan ATL, padahal jika audiens Anda makin banyak online, strategi pemasaran juga harus ikut bergeser.

Posting ini ditulis pada tahun 2008. Beberapa detail mungkin sudah berubah sejak saat itu.

Tulisan ini untuk Marketing Manager yang ingin memahami apa itu "Online Marketing".

Anda sering dengar online marketing efektif, kampanye kompetitor berhasil, fitur baru Facebook menarik, semua orang membicarakannya. Lalu ada Second Life, blogging, presentasi dari Google soal potensi menjangkau jutaan orang dengan biaya jauh lebih kecil, dan berita Microsoft menawar Yahoo.

Online marketing terdengar menarik, kan? Kalau tidak, marketer tidak akan membahasnya terus-menerus.

Masalahnya, banyak perusahaan belum pernah benar-benar mencoba online marketing. Mereka selalu bergantung pada ATL (Above The Line). ATL terasa masih jalan, atasan juga puas, jadi kenapa repot berubah?

Saya tidak akan membahas seluruh argumen "kenapa manajer harus peduli" di sini, tapi ada beberapa pertanyaan penting:

  • Apakah perusahaan Anda punya target audience yang jelas?
  • Apakah target audience Anda ke depan akan berbeda dari sekarang?
  • Apakah mereka makin muda atau makin tua?
  • Berapa waktu audiens Anda habiskan online dibanding koran, TV, radio?

Anda mungkin bilang: "Kami kirim email promosi kok, hasilnya bagus." Betul, itu juga online marketing (EDM/CRM). Jadi kemungkinan Anda sudah melakukannya, hanya belum melihat gambaran besarnya.

Langkah 1: Definisikan tujuan online

Jangan mulai dari minta 3 quotation vendor dulu. Mulai dari tujuan.

"Mau jualan online lebih banyak" bukan tujuan yang cukup jelas.

Pertanyaan dasar:

  • Apakah Anda punya website?
  • Kapan terakhir diperbarui?
  • Siapa yang mengelola?
  • Apakah Anda tahu siapa pengunjungnya dan datang dari mana?

Jika website booking Anda rusak (misalnya airline/hotel), jangan jalankan online marketing dulu. Itu hanya buang uang.

Setelah tujuan bisnis online jelas, pastikan tujuannya SMART. Misalnya: akuisisi 250 pelanggan baru/bulan dengan tambahan belanja online SGD 10.000, dibanding belanja ATL SGD 50.000/bulan yang hanya menghasilkan 30 pelanggan baru.

Contoh channel online:

Ekosistemnya kompleks. Jika perusahaan baru mulai, biasanya lebih aman bekerja dengan konsultan digital yang benar-benar paham strategi dan eksekusi.

Langkah 2: Pilih agensi

Setelah tujuan jelas, baru masuk tahap seleksi vendor/agensi.

Saya pernah bahas di "Search Engine Marketing In-house vs Outsource".

Dari pengalaman saya, pilot 3-6 bulan adalah cara yang baik untuk menilai agensi baru. Lebih singkat dari itu biasanya belum cukup datanya.

Langkah 3: Campaign planning

Setelah pilot, mulai rencana yang lebih serius.

Duduk bersama agensi kreatif + agensi digital untuk menyusun rencana ATL dan online setahun secara terintegrasi.

Poin penting: jangan jalankan campaign online secara ad-hoc hanya saat "lagi ingin" atau saat ada sisa budget.

Perencanaan tahunan memang sulit, tapi itu sebabnya Anda bekerja dengan profesional.

Langkah 4: Ukur performa

Kalau tujuan SMART sudah ada, pengukuran jadi jauh lebih jelas.

Fokusnya: data yang diukur harus benar-benar relevan ke tujuan bisnis.

Langkah 5: Web analytics

Saya pernah menulis pengantar tentang ini: Singapore Web Analytics

Langkah 6: Review dan optimasi

Banyak manajer belum meluangkan waktu cukup untuk review dan optimasi campaign.

Untuk referensi, Anda bisa baca white paper "The future of Marketing" (EIU + Google), atau rangkuman saya: "The future of Marketing".

Online marketing masih relatif muda. Wajar jika banyak perusahaan belum matang dalam review/optimasi. Tapi ini berubah sangat cepat.

Masih banyak yang bisa dibahas soal optimasi campaign, mungkin di tulisan berikutnya.

Ini post pertama saya setelah Imlek, jadi: Gong Xi Fa Cai!

Salam,

Chandler

Lanjutkan Membaca

Perjalanan Saya
Terhubung
Bahasa
Preferensi