Skip to content
··1 menit baca

Mengapa media planner bisa kehilangan pekerjaan karena Google Ad Planner

Dulu Ad Planner terlihat bisa mengotomasi banyak bagian media planning. Meskipun produknya kini dihentikan, pelajarannya tentang otomasi tetap relevan.

Posting ini ditulis pada tahun 2011. Beberapa detail mungkin sudah berubah sejak saat itu.

Hai,

Saya menulis artikel ini pada 2011. Sejak itu, Google menghentikan Ad Planner dan beralih ke Display Planner, lalu ekosistem Google Ads terus berubah.

Jika Anda mencari praktik terbaru, cek panduan kampanye di Google Ads. Namun saya tetap menyimpan konteks original 2011 di bawah ini karena pelajarannya masih relevan.

Google Ad Planner (juga dikenal sebagai DoubleClick Ad Planner) dulu adalah tool gratis untuk membantu media planning.

Kenapa idenya sangat kuat?

Dalam workflow normal, media planner perlu memahami target audiens terlebih dulu:

  • Gender
  • Kelompok usia
  • Tingkat pendidikan
  • Bahasa
  • Demografi lain
  • Minat dan kebiasaan

Lalu memilih daftar situs dan format iklan yang tepat untuk:

  • Menjangkau audiens yang benar
  • Menyampaikan pesan kreatif lewat format yang sesuai
  • Mengurangi overlap audiens
  • Menjaga brand safety
  • Mematuhi regulasi
  • Mengoptimalkan budget

Jika kita memasukkan parameter target seperti geografi, bahasa, pendapatan rumah tangga, usia, gender, pendidikan, aktivitas online, sampai minat personal, Ad Planner akan memberi daftar situs yang cocok.

Kita juga bisa memfilter berdasarkan format iklan, domain, dan akses di Google Display Network. Metrik seperti visitor bulanan, kunjungan rata-rata, dan impresi iklan juga tersedia.

Dari mana data itu datang?

Google tidak menjelaskan semuanya secara detail, tetapi kemungkinan sumbernya antara lain:

  • Google Analytics
  • Google Toolbar
  • Cookie browser
  • Sumber internal lain

Keterbatasan untuk pasar seperti Vietnam (saat itu)

Di Vietnam pada 2011, ketersediaan data audiens rinci masih terbatas. Metrik dasar seperti unique visitors mungkin ada, tetapi detail demografi dan format sering belum lengkap. Dengan transparansi pasar yang rendah, kegunaan tool juga ikut terbatas.

Apakah media planner akan tergantikan?

Argumen saya saat itu: semakin canggih tool perencanaan media, semakin banyak pekerjaan mekanis yang terotomasi. Klien kecil bisa melakukan perencanaan sendiri. Tim yang dulu butuh 3 orang bisa jadi cukup 1 orang untuk output tertentu.

Namun inti pelajarannya bukan “peran media planner hilang”, melainkan perannya bergeser:

  • Lebih sedikit pekerjaan manual repetitive
  • Lebih banyak nilai di strategi, integrasi kanal, dan pengambilan keputusan

Terima kasih,

Chandler

Lanjutkan Membaca

Perjalanan Saya
Terhubung
Bahasa
Preferensi