Skip to content
··2 menit baca

Kekuatan dari asumsi niat baik

Mengasumsikan niat baik mengubah cara saya menanggapi keputusan yang terlihat aneh di tempat kerja. Ini fondasi penting jika Anda ingin memberdayakan tim tanpa kontrol berlebihan dari pusat.

Baru-baru ini seorang teman bertanya bagaimana pendekatan saya dalam menghadapi perbedaan budaya antar negara dan perbedaan cara kerja. Konteksnya begini: saat bekerja di perusahaan multinasional, kita sering menjumpai keputusan dari rekan di market lain yang membuat bingung, bahkan tampak gila pada pandangan pertama.

Saya sering mengalaminya. Dan saya akui, respons pertama saya dulu tidak selalu bijak.

Saat saya salah menilai

Beberapa tahun lalu, salah satu tim negara kami meluncurkan kampanye yang di atas kertas terlihat ide buruk. Targeting-nya meleset, alokasi budget-nya menurut saya tidak masuk akal, dan creative-nya jauh dari yang kami sepakati di level regional. Reaksi awal saya? Saya yakin mereka tidak paham brief atau memang tidak peduli.

Saya sempat menyusun email dengan nada keras. Untungnya, saya menahan diri semalam.

Esoknya saya memilih telepon tim lokal tersebut. Ternyata mereka punya intel tentang pergerakan kompetitor yang tidak kami ketahui di level regional. Keputusan yang saya anggap "gila" justru respons cepat yang cerdas terhadap kondisi pasar lokal. Kalau email itu terkirim, hubungan kami bisa rusak dan saya sendiri akan terlihat bodoh.

Momen itu mengubah cara saya menghadapi situasi seperti ini.

Kenapa kontrol terpusat terasa aman (padahal belum tentu)

Ketika makin sering muncul keputusan "membingungkan" dari tim lokal, godaan besarnya adalah beralih ke model terpusat, di mana tiap negara punya ruang keputusan yang sangat terbatas dan hampir semua hal perlu approval regional/global.

Jika model itu cocok untuk Anda, bagus. Ada banyak cara menyelesaikan masalah :) Namun jika Anda masih ingin mencoba model desentralisasi, yaitu memberdayakan tim lokal mengambil keputusan sendiri, maka menurut saya prasyarat pertamanya adalah asumsi niat baik.

Seperti apa asumsi niat baik dalam praktik

Dengan proses rekrutmen yang baik, Anda berasumsi perusahaan merekrut orang-orang berbakat dan berkomitmen. Maka logis jika mereka dilatih dan diberdayakan menjalankan pekerjaannya, bukan dimikromanajemen dari jauh.

"Assuming positive intent" memang sulit di awal, tapi akan lebih mudah dengan latihan. Beberapa hal yang membantu saya:

  • Tidur dulu sebelum merespons. Jika reaksi emosional awal Anda kuat, tahan dorongan untuk merespons seketika. Saya tahu rasanya menggoda dan tampak memuaskan untuk meluapkan frustrasi. Tapi kepuasan itu singkat, sementara dampak buruknya bisa panjang.
  • Bertanya sebelum menghakimi. Berkali-kali, saat saya mulai dari asumsi bahwa anggota tim pasti punya alasan valid di balik "keputusan gila", pemahaman saya justru meluas dan solusi yang muncul jadi lebih baik.
  • Ingat bahwa mereka juga ingin berhasil. Tim Anda ingin proyek sukses sama seperti Anda. Rekan yang belum membalas tepat waktu? Daripada langsung menganggap malas, pertimbangkan bahwa ia mungkin sedang menangani hal yang lebih mendesak dan akan kembali ke Anda secepat mungkin.

Catatan kecil

Tentu saya tidak naif menganggap ini benar untuk semua orang di semua organisasi. Politik kantor dan agenda pribadi itu nyata. Daripada patah semangat, menurut saya lebih baik memahami rentang motivasi yang ada agar bisa memasukkannya ke strategi Anda.

Ini mengubah saya

Asumsi niat baik sangat membantu saya dalam kehidupan profesional maupun personal. Ini membantu saya berkembang dan menjadi versi diri yang lebih baik dari waktu ke waktu. Saya harap ini juga membantu Anda. Jadi kalau belum coba, mulai saja :)

Pernahkah Anda berasumsi buruk terhadap keputusan rekan kerja lalu ternyata salah? Saya ingin mendengar ceritanya.

Salam,

Chandler

Lanjutkan Membaca

Perjalanan Saya
Terhubung
Bahasa
Preferensi