Skip to content
··13 menit baca

Apa yang sebenarnya dibeli Publicis dengan US$2,2 miliar: catatan tentang deal LiveRamp

Publicis sudah mencapai kesepakatan untuk mengakuisisi LiveRamp dengan enterprise value sekitar US$2,2 miliar. Menurut saya, pertanyaan menariknya bukan apakah ini menggantikan walled gardens atau menyelamatkan open web. Tidak. Pertanyaan yang lebih tepat adalah apa yang masih dibutuhkan advertiser di luar ekosistem tertutup.

Catatan singkat sebelum mulai: post ini sebagian besar diriset dan ditulis dengan AI. Saya memakai AI chat untuk menguji argumen, menantang asumsi saya sendiri, dan menyusun analisisnya. Saya sengaja mempublikasikannya seperti ini, karena poin post ini bukan hanya deal Publicis-LiveRamp. Ini juga contoh kecil bagaimana analisis industri berubah ketika AI bisa membantu riset, challenge, dan menulis dengan sangat cepat.

Akhir pekan lalu, saya melihat berita bahwa Publicis sudah mencapai kesepakatan untuk mengakuisisi LiveRamp dengan nilai sekitar US$2,2 miliar.

Di rilis itu, framing-nya cukup jelas. Arthur Sadoun mengaitkan akuisisi Epsilon dengan upaya membantu clients mengambil kembali kontrol atas data mereka dari walled gardens. Menurut saya itu titik awal yang berguna, tetapi bukan seluruh cerita.

Reaksi pertama saya mungkin bukan reaksi yang diinginkan press release-nya.

Saya tidak berpikir: wow, ini mengubah semuanya.

Saya berpikir: apakah ini benar-benar berarti kalau advertising sudah begitu didominasi walled gardens?

Karena itu titik awal yang jujur, kan? Sebagian besar digital advertising sudah terjadi di dalam ekosistem tertutup besar: search, video, social, retail, marketplace, super-app, dan commerce networks.

Saat saya mengatakan walled gardens, maksud saya ekosistem tertutup yang memiliki inventory, identity, auction, optimization logic, dan measurement interface sendiri.

Mereka punya login data, purchase data, exposure data, bidding systems, creative tools, conversion APIs, dan dashboard measurement sendiri.

Jadi mengapa kita perlu peduli ketika sebuah agency holding company membeli platform data collaboration dan identity?

Apakah ini strategic infrastructure, atau hanya cara mahal untuk bertarung di perang yang sudah dimenangkan walled gardens?

Saya masih memikirkan jawabannya, tapi pandangan saya sekarang adalah:

Publicis tidak membeli cara untuk menggantikan walled gardens. Publicis membeli posisi yang lebih kuat di dunia berantakan yang ada di luar mereka.

Dunia itu masih penting. Tapi pentingnya lebih terbatas, lebih terfragmentasi, dan lebih praktis daripada cerita yang kadang ingin dijual industri.

Pertama, deal ini belum selesai

Poin kecil tapi penting: per 18 Mei 2026, akuisisi ini belum selesai.

Publicis sudah menandatangani kesepakatan untuk mengakuisisi LiveRamp. Harga yang diumumkan adalah US$38,50 per saham secara tunai, mewakili sekitar US$2,167 miliar enterprise value dan US$2,546 miliar total equity value, termasuk US$379 juta net cash yang ikut diakuisisi. Deal ini diperkirakan selesai sebelum akhir 2026, tergantung persetujuan dan kondisi closing biasa. Rilis investor LiveRamp juga mengatakan hal yang sama.

Perbedaan ini penting karena market, regulator, klien, kompetitor, dan partner LiveRamp yang sudah ada masih punya waktu untuk bereaksi.

Ini juga penting karena nilai LiveRamp selama ini sebagian datang dari kemampuannya memposisikan diri sebagai lapisan data collaboration yang relatif netral. Kalau lapisan itu dimiliki oleh satu agency holding company, pemain lain wajar bertanya soal neutrality, pricing, governance, dan data firewalls.

Saya tidak bilang pertanyaan itu tidak bisa dijawab. Mungkin bisa dijawab secara kontrak, operasional, dan teknis.

Tapi trust bukan hanya masalah kontrak. Trust juga masalah persepsi.

Dan dalam advertising, persepsi sering berubah menjadi strategi.

Narasi yang mudah terlalu sederhana

Narasi yang mudah adalah:

Publicis setuju membeli LiveRamp, jadi Publicis sekarang punya identity layer yang kuat, jadi Publicis bisa lebih baik bersaing melawan walled gardens.

Menurut saya itu sebagian benar, tapi terlalu rapi.

Walled gardens tidak kuat karena mereka punya satu magic ID. Mereka kuat karena mereka memiliki seluruh operating environment.

Mereka tahu siapa user-nya.

Mereka tahu apa yang user lakukan di dalam platform.

Mereka mengontrol auction.

Mereka mengontrol inventory.

Mereka mengontrol measurement interface.

Mereka bisa mendorong advertiser ke automated buying products di mana platform itu sendiri menjadi optimizer, measurement provider, dan recommendation engine.

Itu jenis power yang sangat berbeda dari identity resolution di open web.

Jadi tidak, saya tidak berpikir Publicis + LiveRamp tiba-tiba menjadi substitusi nyata untuk walled gardens besar. Kalau advertiser butuh performance di dalam salah satu ekosistem itu, mereka tetap membutuhkan ekosistem itu. Kalau brand ingin muncul di feed short-form video besar, marketplace search result, premium video environment, atau retail media network, pemilik platform tetap penting.

Pertanyaan yang lebih baik bukan:

Apakah LiveRamp membantu Publicis mengalahkan walled gardens?

Pertanyaan yang lebih baik adalah:

Masalah apa yang masih dimiliki advertiser justru karena walled gardens begitu kuat?

Di situlah deal ini menjadi lebih menarik.

Mengapa advertiser masih butuh measurement di luar platform

Kalau Anda advertiser kecil yang spend-nya terutama di satu atau dua platform, jawabannya mungkin: Anda tidak butuh banyak hal lain.

Anda bisa cukup percaya dashboard tiap platform, optimasi di dalam platform itu, lalu lanjut. Tidak sempurna, tapi cukup baik untuk banyak bisnis.

Tapi advertiser besar punya masalah yang berbeda.

Mereka tidak hanya perlu tahu apakah satu platform mengatakan performanya bagus.

Mereka perlu tahu:

  • Apakah media ini benar-benar menciptakan incremental sales?
  • Apakah platform mengambil credit untuk demand yang sebenarnya akan terjadi juga?
  • Seberapa besar overlap antar-platform?
  • Apa yang terjadi kalau kita memindahkan budget dari satu ekosistem ke ekosistem lain?
  • Bagaimana reach dan frequency gabungan di premium video, retail media, social, search, commerce, dan open web?
  • Apakah kita under-invest dalam efek brand jangka panjang karena atribusi jangka pendek membuat satu channel terlihat lebih baik?

Tidak ada satu walled garden pun yang bisa menjawab pertanyaan itu secara jujur untuk seluruh plan.

Bukan karena orang-orang di perusahaan itu buruk. Bukan itu poin saya.

Masalahnya adalah structural incentive.

Setiap platform paling jelas melihat dunianya sendiri. Setiap platform mendapat reward ketika advertiser spend lebih banyak di dunia itu. Measurement setiap platform, secara definisi, platform-centered.

Jadi ketika advertiser menjumlahkan impact yang dilaporkan tiap platform, totalnya bisa terlihat jauh lebih impresif daripada realitas. Semua orang mendapat sebagian credit. Kadang semua orang mendapat terlalu banyak credit.

Itulah mengapa advertiser masih peduli pada independent measurement, marketing mix modeling, incrementality testing, holdouts, clean rooms, dan data collaboration.

Bukan karena semua itu sempurna.

Karena alternatifnya adalah membiarkan setiap penjual menilai PR-nya sendiri.

Open web masih penting, tapi bukan seperti dulu

Menurut saya di sinilah diskusi sering membingungkan.

Ketika orang berkata "open web masih penting", itu bisa terdengar seperti mereka mengatakan open web akan kembali menjadi pusat digital advertising.

Saya tidak berpikir itu realistis.

Model identity lama open web dibangun di atas cookies, device IDs, pixels, dan sikap yang cukup santai terhadap cross-site tracking. Dunia itu sudah mengecil selama bertahun-tahun.

Intelligent Tracking Prevention dari Safari mengubah apa yang bisa dilakukan cross-site tracking. App Tracking Transparency dari Apple membuat consent di iOS apps jauh lebih eksplisit. Ad blockers, private browsing, premium subscriptions, privacy regulation, dan logged-out usage semuanya mengurangi apa yang bisa diamati dan dicocokkan. Arah umum browser juga bergerak ke lebih banyak pilihan user dan lebih sedikit tracking yang tidak terlihat, walaupun jalurnya terus berubah.

Jadi saya akan berhati-hati dengan cerita apa pun yang membuat "common ID" terdengar seperti industri akan kembali ke 2018.

Tidak.

Open web masih penting, tapi bukan karena ia memberi advertiser pandangan universal tentang semua orang.

Ia penting karena menjadi bagian dari sistem yang lebih besar dan terfragmentasi:

  • publisher environments dengan logged-in users
  • retail media networks dengan purchase data
  • CTV platforms dengan account-level identity
  • commerce media partnerships
  • brand CRM data
  • clean rooms
  • contextual signals
  • aggregate measurement

Itu dunia yang sangat berbeda dari "drop a cookie lalu ikuti user ke mana-mana."

Kurang lengkap.

Lebih mahal.

Lebih sulit dijelaskan.

Dan mungkin lebih realistis.

AI chatbots membuat open web makin jarang menjadi tujuan kunjungan

Ada lapisan lain yang membuat pertanyaan open web makin sulit.

Orang semakin sering mendapat jawaban langsung dari AI chatbots dan pengalaman search yang dibantu AI. Mereka bertanya, mendapat jawaban yang disintesis, mungkin bertanya lagi, dan sering kali tidak pernah mengunjungi website sumber.

Saya tidak mengatakan ini dengan wajah senang.

Saya juga punya website. Saya menulis long-form posts. Saya peduli bahwa orang menemukan original source, membaca argumen lengkap, dan membangun hubungan dengan orang di balik halaman itu. Jadi kalau open web bukan lagi tujuan utama, itu juga berdampak langsung pada saya.

Tapi saya lebih suka bekerja dengan realitas daripada mencoba bernegosiasi dengannya.

Realitasnya tampaknya begini: untuk banyak pertanyaan informasional, journey user bergeser dari "search -> click -> read" menjadi "ask -> answer -> maybe click if needed."

Itu mengubah peran open web dalam tiga cara.

Pertama, mengurangi peran open web sebagai tujuan kunjungan. Website masih ada, tapi user bisa mendapat jawabannya di tempat lain.

Kedua, menciptakan measurement blind spot baru. Kalau jawaban AI memengaruhi apa yang seseorang percaya, bandingkan, atau beli, bagaimana advertiser mengukur pengaruh itu? Itu bukan impression normal. Bukan click normal. Tidak tertangkap rapi oleh platform attribution atau open-web identity graphs.

Ketiga, mendorong lebih banyak value ke tempat di mana data masih lebih dekat dengan transaksi atau hubungan logged-in: retail media, CTV, commerce environments, publisher subscriptions, loyalty programs, dan brand first-party data.

Itu penting untuk deal ini karena membuat cerita lama "open web identity layer" semakin kurang meyakinkan. Kalau user menghabiskan lebih banyak discovery time di AI answer interfaces, open web bukan hanya lebih sulit diidentifikasi lintas situs. Ia juga lebih jarang dikunjungi.

Ini tidak membuat LiveRamp irrelevant. Ini mengubah LiveRamp relevant untuk apa.

Value-nya bukan lagi merekonstruksi universal open-web user journey, tetapi membantu brands, retailers, publishers, CTV platforms, dan commerce partners berkolaborasi di tempat yang masih punya consented, high-quality data.

Itu klaim yang lebih kecil, dan menurut saya lebih bisa dipercaya.

Masalah common ID itu nyata

Ini bagian yang saya harap industri bicarakan lebih terus terang.

Common IDs berguna, tapi bukan magic.

Match bukan truth.

Addressable user bukan berarti reachable user.

Reachable user belum tentu right user.

Dan user yang bisa diukur belum tentu mewakili user yang paling penting.

Poin terakhir ini penting.

Orang yang memblokir iklan, opt out tracking, memakai privacy-focused browsers, membayar premium subscriptions tanpa iklan, atau hidup terutama di dalam closed apps tidak tersebar secara acak. Mereka bisa lebih muda, lebih kaya, lebih urban, lebih technical, lebih privacy-conscious, atau lebih valuable untuk brand tertentu.

Jadi populasi yang tidak terukur bukan hanya "missing data."

Bisa jadi itu data yang secara sistematis berbeda.

Itu menciptakan masalah selection bias.

Kalau measurement Anda terutama melihat orang yang lebih mudah di-track, Anda bisa mengoptimalkan ke bagian pasar yang visible sambil melewatkan bagian invisible yang mungkin lebih valuable.

Itulah mengapa saya gugup ketika identity vendors bicara tentang coverage terlalu rapi. Saya tidak meragukan banyak technical claims benar dalam definisi mereka. Tapi pertanyaan operasionalnya berbeda:

Berapa banyak dari target audience saya yang benar-benar bisa saya reach, match, measure, dan trust untuk campaign spesifik ini, di market spesifik ini, di channel spesifik ini?

Jawabannya biasanya jauh kurang elegan daripada sales deck.

Beberapa angka nyata membantu di sini. Dokumentasi LiveRamp sendiri mengatakan match rates berubah tergantung input identifier, kualitas data, matching methodology, precision level, destination platform, dan lookback window, yang di beberapa destination bisa hanya 30 hari. Sebuah platform juga bisa memisahkan "matched" dari "reachable": dokumentasi LinkedIn Matched Audiences menjelaskan bahwa last audience count melakukan deduplication pada source entries dan menghapus member yang opt out. Untuk mobile app identity, benchmark Adjust Q2 2025 menempatkan ATT opt-in di 35% di antara users yang melihat prompt, yang berarti rate di seluruh iOS users lebih rendah ketika app tidak menampilkan prompt. Dan riset YouGov di 48 market menunjukkan bahwa ad-blocking dan anti-tracking tools cukup umum untuk menjadi masalah coverage yang nyata, bukan edge case.

Jadi headline 60% match rate di satu environment bukan berarti 60% cross-web-and-app measurement truth. Dalam beberapa cross-platform plans nyata, saya tidak akan kaget kalau effective addressability jatuh lebih dekat ke 15-35% setelah browser limits, app consent, ad blockers, anti-tracking tools, logged-out users, deduplication, dan reachability ikut dihitung. Itu bukan universal benchmark. Itu planning hypothesis yang harus diuji.

Jadi kenapa clean rooms masih penting?

Karena jawaban parsial bisa bernilai kalau alternatifnya tidak ada jawaban.

Clean rooms tidak menarik karena membuat measurement sempurna. Clean rooms menarik karena membuat beberapa jenis collaboration mungkin di bawah constraint privacy modern.

Retail media adalah contoh paling mudah.

Retailer mungkin tahu siapa yang membeli produk.

Brand mungkin tahu siapa yang masuk CRM atau loyalty audience.

Media platform atau publisher mungkin tahu siapa yang melihat iklan.

Tidak ada yang ingin membocorkan raw personally identifiable information ke semua pihak. Regulator juga tidak mau itu. Clean rooms menjadi lingkungan terkontrol di mana pihak-pihak bisa match, analyze, dan measure berdasarkan rules yang disepakati.

Apakah complete?

Tidak.

Apakah clean dalam arti sehari-hari?

Juga tidak. Siapa pun yang pernah bekerja dengan real data tahu bahwa kata "clean" di sini bekerja cukup keras secara emosional. :)

Tapi dalam retail media, CTV, dan first-party data activation, clean rooms bisa menjawab pertanyaan yang jika tidak ada clean rooms akan mustahil atau tidak aman dijawab.

Itulah value praktisnya.

Bukan perfection.

Permission.

Apa yang sebenarnya dibeli Publicis

Jadi ketika melihat deal ini, saya tidak melihat Publicis membeli "identity layer of the internet."

Itu terdengar terlalu besar.

Saya melihat Publicis membeli beberapa hal yang lebih praktis:

Skalanya penting. EMARKETER memperkirakan US retail media spending akan mencapai US$69,33 miliar di 2026, dan IAB/PwC melaporkan US$63,4 miliar commerce media di 2025 plus US$78 miliar digital video, termasuk CTV, social video, online video, dan short-form video. Ini bukan side channels lagi.

  1. Peran yang lebih kuat dalam retail media dan commerce measurement

Retail media terus tumbuh karena retailers punya sesuatu yang sangat diinginkan advertiser: purchase data. LiveRamp penting dalam membantu brands dan retailers berkolaborasi di sekitar data itu. Itu berguna secara strategis.

  1. Peran yang lebih kuat dalam CTV dan authenticated environments

CTV terfragmentasi. Ini bukan satu clean garden. Ini banyak living rooms, accounts, apps, devices, publishers, platforms, bundles, dan measurement systems. Identity dan data collaboration tetap penting di sana, walaupun messy.

  1. Lapisan first-party data activation yang lebih dalam

Brands dengan CRM, loyalty, transaction, atau customer data nyata membutuhkan cara untuk activate dan measure data itu tanpa melemparkannya ke tempat terbuka. LiveRamp membantu di situ.

  1. Posisi defensif saat platform buying makin automated

Jika platform terus mengotomatisasi lebih banyak buying process, agencies perlu membenarkan perannya di tempat lain: strategy, data, measurement, experimentation, integration, dan operating model. Memiliki lebih banyak data collaboration layer membantu.

  1. Cerita AI agents dengan data substrate nyata di bawahnya

Publicis membingkai deal ini sebagian sebagai agentic transformation, dan saya selalu agak waspada ketika acquisition strategis dibungkus dengan phrase of the year.

Tapi logika dasarnya masuk akal. AI agents tanpa trusted data access sebagian besar hanyalah workflow demos. Identity, clean rooms, permissions, dan data collaboration adalah substrate yang membuat agentic media planning, activation, dan measurement menjadi nyata, bukan teatrikal.

Di titik itu, framing-nya masuk akal bagi saya, walaupun bahasanya sedang fashionable.

Risikonya adalah kepercayaan

Risiko yang jelas adalah integration.

Membeli data assets satu hal. Membuatnya bekerja bersama lintas teams, clients, markets, products, legal constraints, dan campaign workflows nyata adalah hal lain.

Tapi risiko yang lebih dalam adalah kepercayaan.

Nilai LiveRamp sebagian bergantung pada keyakinan bahwa ia bisa duduk di antara banyak pihak. Kalau beberapa pihak itu sekarang melihatnya dimiliki oleh competitor, mereka mungkin tetap menggunakan, tapi akan melihat alternatives lebih serius.

Pada dasarnya, Publicis membayar premium untuk asset yang neutrality-nya adalah bagian dari moat, dan neutrality itu menjadi lebih sulit dipercaya setelah Publicis memilikinya.

Publicis tampaknya tahu concern ini ada. Rilisnya mengatakan LiveRamp akan tetap beroperasi sebagai platform yang netral dan interoperable, dengan standard commercial practices yang dipertahankan. Ini persis jenis bahasa yang dipakai ketika Anda memperkirakan clients, partners, dan competitors akan bertanya apakah asset ini masih bisa dipercaya setelah ownership berubah.

Mereka mungkin bertanya:

  • Apakah data firewalls cukup kuat?
  • Apakah pricing tetap neutral?
  • Apakah keputusan roadmap akan menguntungkan satu ekosistem?
  • Apakah governance bisa diaudit?
  • Apakah kami harus diversify ke solusi clean room, cloud, publisher, atau retail media lain?

Itu pertanyaan yang rasional.

Karena itu saya tidak berpikir deal ini harus dipahami hanya sebagai "Publicis menjadi lebih kuat." Deal ini juga bisa mendorong pasar lain mengurangi dependency pada platform yang kini punya ownership structure berbeda.

Itu bukan hanya perception issue. Itu revenue-risk question untuk asset itu sendiri.

Dengan kata lain, asset ini menjadi lebih powerful dan lebih politically complicated pada saat yang sama.

Keduanya bisa benar.

Takeaway praktis saya

Kalau saya advertiser yang melihat ini dari luar, saya tidak akan mengubah measurement philosophy hanya karena satu acquisition announcement.

Saya akan menggunakannya sebagai pengingat untuk lebih disciplined.

Saya akan memperlakukan platform-reported ROAS sebagai useful tapi tidak final.

Saya akan memperlakukan common IDs sebagai partial signals, bukan universal truth.

Saya akan berinvestasi lebih banyak dalam dua bucket.

Measurement: marketing mix modeling, incrementality testing, geo experiments, holdout design, dan clean room measurement di tempat di mana data quality benar-benar kuat.

Capabilities: first-party data strategy, contextual dan creative quality, serta retail media / CTV measurement standards.

Dan saya akan bertanya ke setiap identity atau clean room partner beberapa pertanyaan sederhana:

  1. Berapa persen dari target audience saya yang benar-benar bisa Anda match?
  2. Berapa banyak dari match itu deterministic versus modeled?
  3. Populasi apa yang missing?
  4. Bagaimana Anda menangani iOS, ad blockers, logged-out users, dan premium environments?
  5. Keputusan apa yang sebaiknya saya ambil dari data ini, dan keputusan apa yang irresponsible?

Pertanyaan terakhir itu yang paling saya suka.

Measurement yang baik tidak hanya memberi tahu apa yang bisa Anda ketahui. Ia juga harus memberi tahu apa yang tidak seharusnya Anda pura-pura tahu.

Posisi saya untuk sekarang

Menurut saya deal Publicis-LiveRamp penting.

Tapi bukan karena mengalahkan walled gardens.

Penting karena sisa dunia advertising sedang menjadi kumpulan environments yang fragmented, privacy-constrained, sebagian authenticated, dan sebagian measurable. Retail media, CTV, publisher data, commerce media, dan brand first-party data semuanya butuh connective tissue.

LiveRamp adalah salah satu bagian connective tissue yang lebih dikenal.

Publicis bertaruh bahwa memiliki lebih banyak lapisan ini akan membuat group lebih valuable di dunia tempat media buying semakin automated dan platform-controlled.

Itu taruhan yang defensible.

Tapi juga bukan magic answer.

Masa depan measurement mungkin bukan satu universal ID yang menjelaskan semuanya. Lebih mungkin berupa patchwork dari clean rooms, aggregate models, experiments, publisher dan retailer partnerships, privacy-preserving APIs, contextual signals, AI answer surfaces, dan judgment lama yang tetap penting.

Kurang elegan daripada versi keynote.

Mungkin lebih dekat ke realitas.

Saya bisa saja salah, tentu. Orang yang bekerja lebih dekat dengan identity dan clean rooms mungkin melihat detail yang saya lewatkan. Tapi dari posisi saya, bacaan paling jujur adalah ini:

Walled gardens masih dominan. AI chatbots membuat open web kurang menjadi pusat perjalanan pengguna. Common ID kurang reliable daripada bahasa sales yang biasa kita dengar. Namun advertiser tetap butuh cara independent untuk memutuskan ke mana uang harus pergi.

Itulah mengapa deal ini penting.

Bukan karena memberi Publicis jalan memutar di sekitar walled gardens.

Tapi karena memberi Publicis lebih banyak leverage di semua hal yang tidak bisa dijawab penuh oleh walled gardens.

Sekian dari saya. Kalau Anda bekerja lebih dekat dengan identity resolution, clean rooms, retail media, atau CTV measurement, saya benar-benar ingin mendengar di mana Anda setuju atau tidak setuju.

Masih mencoba memahami.

Salam hangat, Chandler

Lanjutkan Membaca