Bagaimana orang mencari konten seks? Apakah orang Vietnam paling sering mencarinya?
Saya membongkar mitos bahwa orang Vietnam paling sering mencari konten seks di Google. Angka mentah tanpa konteks bisa menyesatkan.
Posting ini ditulis pada tahun 2010. Beberapa detail mungkin sudah berubah sejak saat itu.
Berita tentang “orang Vietnam paling sering mencari seks di Google” muncul lagi. Karena saya terbiasa mempertanyakan klaim di media, saya putuskan mengecek datanya sendiri.
Tujuan saya bukan sekadar rasa penasaran, tapi juga untuk menekankan beberapa hal:
- Angka yang berdiri sendiri hampir tidak berarti tanpa konteks.
- Data mesin pencari sangat kuat dan bisa mengungkap perilaku manusia.
- Perilaku pencarian sangat lokal; tiap negara berbeda.
- Konsep analitik yang rumit sering lebih mudah dijelaskan lewat contoh yang “ringan”.
Catatan: topik ini sensitif dan tidak family-safe.
1. Berapa volume pencarian kata “sex” untuk pasar Vietnam?
Saya menggunakan Google Keyword Tool (pada periode itu).
Untuk Desember 2009, volume pencarian “sex” di Vietnam sekitar 45,500,000. Angka ini terlihat menyumbang sekitar 10.1% dari volume global (414,000,000) di bulan yang sama.
Kalau hanya berhenti di sini, orang bisa langsung membuat kesimpulan sensasional.
Lalu saya ubah ke exact match (kata persis “sex”).
Hasilnya: pencarian exact match hanya 6,120,000 (kontribusi sekitar 7.3% dari global 83,100,000).
Artinya, sebagian besar pencarian di Vietnam bukan kata tunggal “sex”, melainkan variasi/frasa lebih panjang. Ini nyambung ke konsep long-tail keywords: pengguna lebih sering mengetik query yang spesifik.
Implikasi SEM (PPC/SEO): jangan hanya mengejar keyword generik; keyword spesifik sangat penting.
2. Seperti apa tren “sex” di Vietnam?
Untuk ini saya gunakan Google Trends.
Observasi utama:
- Tren naik tipis dari 2004 ke 2009, tidak melonjak drastis.
- Pengguna internet Vietnam naik dari sekitar 5.5 juta (2004) ke 21 juta (2009), hampir 4x, tetapi volume pencarian “sex” tidak naik 4x.
- Ada lonjakan musiman sekitar Januari/Februari.
- Tahun 2007 unik karena ada lonjakan besar sekitar Oktober/pertengahan November.
Saat ditelusuri, lonjakan 2007 berkaitan dengan skandal “sex tape Vang Anh”, yang memicu perhatian media lokal dan internasional.
3. Ranking Vietnam dibanding negara lain
Hipotesis awal saya: banyak negara besar mencari dalam bahasa lokal, jadi ranking Vietnam untuk kata “sex” (bahasa Inggris) bisa tampak tinggi secara artifisial.
Berikut data volume pencarian kata “sex” dalam bahasa Inggris dan bahasa lokal (Desember 2009):
File data asli juga saya unggah:
How people search for sex in December 2009
Dari tabel tersebut, Vietnam bukan nomor satu baik dari:
- volume absolut, maupun
- rasio pencarian “sex” terhadap jumlah pengguna internet.
Saya hitung rasio itu karena negara dengan pengguna internet besar otomatis cenderung punya volume tinggi.
Catatan metodologi:
- Saya tidak menguasai semua bahasa (China, Korea, Rusia, dst), sehingga sebagian terjemahan istilah memakai Google Translate pada masa itu.
- Google juga bukan mesin pencari dominan di semua negara (contoh: Baidu di China, Naver di Korea, Yandex di Rusia), jadi data Google saja tidak cukup untuk klaim global.
4. Perilaku pencarian sangat lokal
Kata tunggal “sex” terlalu ambigu. Di Vietnam, hanya sekitar 6.1 juta pencarian exact match dari total 45 juta+ query terkait. Artinya, sebagian besar pengguna mengetik frasa yang lebih spesifik.
Ini menegaskan bahwa pengguna Vietnam tidak “asal mengetik”, tetapi punya intent yang lebih terarah saat mencari.
Contoh data perilaku pencarian topik dewasa lain:
Kesimpulan
- Vietnam bukan nomor satu di dunia dalam pencarian topik ini.
- Jangan telan mentah-mentah klaim media tanpa verifikasi.
- Analisis data itu tentang konteks, segmentasi, dan interpretasi yang tepat.
Semoga pembahasan ini bermanfaat sekaligus membuka cara pikir yang lebih kritis terhadap data.
Salam,
Chandler












