Skip to content
··2 menit baca

Tanggapan untuk "Delapan Miskonsepsi Data Marketing yang Bisa Membuat Anda Dipecat"

Saya membahas kenapa banyak marketer keliru membedakan metrik vs KPI, lalu bagaimana memperbaikinya agar data benar-benar mendorong keputusan bisnis.

Avinash Kaushik menulis artikel sangat bagus berjudul "Eight Silly Data Things Marketing People Believe That Get Them Fired". Inti besarnya: metrik dan KPI itu berbeda.

  • KPI berdampak langsung ke bottom line.
  • Metrik membantu diagnosis taktis.
  • Sebagian metrik bahkan tidak berguna.

1. "Marketer yang tidak memakai data dalam pekerjaannya"

Komentar Avinash: kelompok ini seharusnya segera diganti. Saya setuju dengan semangatnya, tetapi di pasar seperti Vietnam saat itu, jika aturan ini diterapkan mentah, jumlah orang yang kena dampaknya akan sangat besar.

Masalahnya bukan cuma "tidak pakai data", tetapi juga data puke: data sangat banyak tanpa insight.

2. "Real-time data mengubah segalanya"

Untuk saya, real-time data paling penting di konteks tertentu seperti crisis management. Di banyak konteks lain, yang lebih penting adalah right-time analysis, bukan laporan setiap saat tanpa tujuan optimasi.

Saya tetap percaya laporan yang pendek, tajam, dan insight-driven. Tidak perlu 80 slide. Sering kali 10-15 slide sudah lebih dari cukup.

3. "Yang penting perbaiki bounce rate"

Bounce rate sangat populer dijadikan KPI. Ini keliru.

Bounce rate agregat seluruh situs biasanya tidak actionable. Kalau bounce 70%, lalu apa tindakan berikutnya? Tanpa segmentasi, angka itu tidak menjawab apa-apa.

Bounce rate:

  • bukan KPI utama,
  • adalah metrik pendukung,
  • harus dibaca per source, campaign, landing page, dan user segment.

4. "Jumlah likes = social media sukses"

Pasar sudah lebih paham bahwa likes saja tidak cukup. Kita perlu melihat engagement, talking about this, interaksi rata-rata per post, dan tren dari waktu ke waktu.

Masalahnya, banyak tim masih melihat snapshot sesaat, bukan tren jangka waktu. Selain itu, tanpa social monitoring tools, nilai earned media sulit diukur dengan benar.

5. "Ranking #1 di Google = SEO sukses"

Ini KPI paling umum tetapi sering disalahgunakan.

Yang lebih bermakna:

  • trafik organik branded vs non-branded,
  • kontribusi organik ke tujuan bisnis,
  • kualitas trafik dan konversi.

Ranking keyword tertentu tidak otomatis berarti bisnis membaik.

6. "Turunkan CPC sekarang juga"

Pasar mulai memahami klik bukan KPI akhir. Namun implementasi tracking sering lemah: kode belum dites, data belum diverifikasi, dan tim baru sadar ada masalah saat laporan bulanan keluar.

Tanpa tracking yang benar, optimasi CPC/CTR jadi ilusi.

7. "Pageviews, lebih banyak lebih baik"

Tidak selalu. Pageview tinggi kadang berarti navigasi buruk: user klik berulang hanya untuk menemukan informasi dasar.

Lebih baik fokus pada:

  • konten yang memang ingin dipromosikan,
  • apakah konten itu benar-benar dikonsumsi,
  • dan apakah konten tersebut mendorong tindakan yang diinginkan.

8. "Impressions, cari sebanyak-banyaknya"

Impression online tanpa konteks bisnis hampir tidak berarti.

Impression tidak sama dengan "orang benar-benar melihat pesan". Itu hanya berarti iklan tampil satu kali oleh ad server. Tanpa atribusi lintas channel dan dampak ke outcome bisnis, angka impression mudah menipu.

9. "Demografi & psikografi sudah cukup, niat tidak penting"

Saya setuju dengan Avinash: intent sering mengalahkan demografi.

User 52 tahun yang datang dengan intent membeli lebih bernilai daripada user 30 tahun yang "masuk target" tapi tidak punya intent.

Itu sebabnya search dan contextual advertising sangat kuat secara global.

Bagaimana menurut Anda? Setuju atau tidak?

Salam,

Chandler

Lanjutkan Membaca

Perjalanan Saya
Terhubung
Bahasa
Preferensi