Skip to content
··2 menit baca

Cara yang sebaiknya dihindari saat menjalankan campaign video YouTube

Setelah dibombardir iklan pre-roll yang sama selama berhari-hari, saya makin yakin banyak campaign YouTube gagal bukan karena kreatifnya saja, tapi karena strategi distribusinya keliru.

Selama 3 hari terakhir saya terus dibombardir oleh video ad di YouTube yang, jujur saja, "tidak terlalu menarik".

Setiap kali saya mau menonton video, iklan ini muncul sebagai pre-roll.

Setiap kali juga saya skip setelah 5 detik. Saya tidak tahu ini video tentang apa, pesannya apa, bahkan brand-nya apa.

Baru setelah terasa sangat mengganggu saya mulai memperhatikan brand-nya supaya bisa menulis posting ini.

Ini video ad berdurasi 3 menit dari brand besar, sepertinya kampanye CSR atau semacam itu.

Bagaimanapun juga, saya tidak cukup sabar menonton sampai lewat 30 detik untuk memahami detail lengkapnya (bahkan untuk riset menulis posting ini).

Beberapa hal yang menurut saya secara fundamental salah di sini:

  • Targeting option: saat saya menonton video game di YouTube, saya tidak ingin melihat video random. Tujuan saya saat itu biasanya untuk santai. Tolong pertimbangkan konteks saat menampilkan video ad.
  • No frequency cap: tolong batasi frekuensi per user per hari saat beriklan di YouTube. Normalnya user tidak suka ditarget berlebihan. Menurut saya maksimum 3 tayangan per user per hari sudah lebih dari cukup. YouTube mungkin perlu mempertimbangkan opsi negative targeting untuk user yang skip video ad yang sama lebih dari dua kali per hari. Kalau seseorang sudah dua kali skip di hari yang sama, menampilkan iklan yang sama lagi jelas tidak masuk akal.
  • Video length: TVC 3 menit yang sekadar di-repurpose ke YouTube itu bukan pendekatan ideal. Saya bahkan tidak tahu brand-nya apa setelah skip 5 kali. Coba lihat laporan YouTube tentang persentase orang yang tidak sampai titik tengah video untuk menilai efektivitas video dan ROI campaign Anda.
  • First impression counts: 5 detik pertama itu sangat penting, karena user bisa skip setelah 5 detik. Jadi sebaik apa pun videonya, kalau Anda tidak bisa "menangkap" perhatian dalam 5 detik, selesai. Uang iklan terbuang.

Kesimpulannya: saat merencanakan media campaign, tempatkan diri Anda di posisi konsumen.

P.S: sebagai konsumen, saya juga tidak suka non-skippable video. Tiap kali harus menonton iklan YouTube yang tidak bisa di-skip, rasanya seperti "dipaksa". Sikap saya terhadap brand yang menayangkan iklan itu (kalau saya sempat cukup kesal sampai notice brand-nya) jelas tidak positif.

P.S: ini contoh video ad yang dikerjakan dengan tepat. Saya menonton iklan ini sampai habis 5 menit, menceritakannya ke kolega, bahkan sempat mencoba subscribe ke Beats Music. Mashable menulis tentang iklan ini, lalu muncul di Facebook News Feed saya, dan saya memilih menontonnya. Great experience!

beat music video ads

Lanjutkan Membaca

Perjalanan Saya
Terhubung
Bahasa
Preferensi