Mengapresiasi perbedaan budaya kerja, kepribadian, dan cara bekerja
Tim lintas budaya menuntut pemimpin untuk beradaptasi. Kuncinya bukan membuat semua orang bekerja seperti kita, tetapi menyesuaikan gaya manajemen agar efektif untuk tiap individu.
Setiap orang berbeda, dan itu given.
Ini makin nyata ketika anggota tim datang dari budaya dan norma kerja yang berbeda.
Terdengar sangat jelas, tapi untuk benar-benar menghargainya, dibutuhkan cultural awareness dan pengalaman nyata bekerja dengan banyak orang.
Beberapa area perbedaan antaranggota tim:
- persepsi harga diri
- aspirasi karier
- motivasi kerja
- tahap kehidupan
- budaya kerja negara asal
- pengalaman profesional
Contoh sederhana: kebutuhan orang usia 20-an yang masih single jelas berbeda dari orang usia pertengahan 30-an dengan keluarga. Pilihan tempat tinggal, jenis pekerjaan, risk appetite, dan prioritas finansial akan berbeda.
Saya kenal seorang manajer berbakat (sebut saja Sophie). Ia naik cepat dan menjadi people manager di usia muda (sekitar pertengahan 20-an), tapi awalnya kesulitan besar dalam people management.
Ia tidak memahami kenapa anggota tim lain tidak sekomit dia, tidak secepat dia, atau tidak bekerja dengan cara yang ia inginkan.
Saya bilang itu normal untuk manajer baru. Tambahan lagi, di banyak budaya Asia, usia masih berpengaruh besar terhadap legitimasi kepemimpinan.
Karena Sophie sangat muda, sebagian anggota tim sulit langsung memperlakukannya sebagai otoritas manajerial.
Budaya bisnis Jepang, Australia, dan India juga sangat berbeda.
Perbedaannya bisa muncul dari hal sederhana seperti:
- jam mulai/selesai kerja
- cara merespons permintaan atasan
- makna "yes" (kadang berarti "saya dengar", bukan "saya setuju")
Lalu bagaimana belajar mengapresiasi perbedaan ini?
Pertama: sadar dan akui bahwa keberagaman adalah kekuatan, khususnya untuk ketahanan tim saat menghadapi perubahan.
Kedua: sebagai people manager, Anda yang perlu menyesuaikan gaya dan pendekatan, bukan menuntut semua orang menyesuaikan diri ke gaya Anda.
Ketiga: ini bukan keterampilan yang bisa benar-benar dipelajari dari textbook saja. Perlu waktu dan pengalaman nyata.
Keempat: assume positive intent.
Kelima: "seek first to understand, then to be understood."
Itu dulu dari saya.
Salam, Chandler

