Skip to content
··2 menit baca

Asimetri kenaikan vs penurunan investasi untuk kembali impas

Rugi 25% pada investasi tidak cukup dipulihkan dengan naik 25%. Anda butuh kenaikan 33% untuk kembali impas, dan gap ini makin besar saat kerugian makin dalam.

Saya belajar pelajaran ini dengan cara yang tidak menyenangkan. Saat pertama mulai investasi setelah pindah ke AS, saya mengira untung dan rugi itu simetris, rugi 25%, lalu naik 25%, ya balik ke titik awal. Matematika sederhana, kan? Ternyata tidak.

Jika nilai investasi Anda turun 25%, Anda justru butuh kenaikan 33% hanya untuk balik modal. Selisih ini makin besar ketika kerugian makin dalam, dan terus terang saya cukup kaget saat pertama kali menghitungnya.

The asymmetry of investment gain vs loss to break even

Lihat grafik di atas. Rugi 50%? Anda harus menggandakan sisa uang Anda, alias naik 100%, hanya untuk kembali ke nol. Bukan typo. Anda benar-benar perlu 2X untuk impas.

Kalau rugi 95%? Anda butuh 19X. Pada titik itu, Anda praktis berharap keajaiban T.T

Kenapa Ini Penting (Terutama untuk Expat)

Berasal dari Singapura, di mana saya lebih banyak terbiasa dengan CPF dan tabungan konservatif, lanskap investasi di AS terasa seperti planet lain. Di Asia, setidaknya di keluarga dan lingkaran sosial saya, default-nya adalah menabung konservatif: deposito, properti, mungkin sebagian saham blue-chip. Menaruh porsi besar uang ke pasar saham terasa berisiko, bahkan ceroboh. Lalu saya pindah ke AS dan menemukan bahwa di sini justru tidak berinvestasi di pasar dianggap langkah berisiko. Rekan kerja membahas alokasi 401(k) dan strategi index fund seperti teman-teman saya di Singapura membahas harga properti. Tekanan budaya untuk lebih agresif dalam investasi itu nyata, dan bagi orang yang tumbuh dengan kebiasaan menabung ala Asia, rasanya seperti whiplash.

Menurut saya pergeseran budaya ini secara umum positif, karena tabungan konservatif saja sering tidak cukup mengejar inflasi dan biaya hidup di AS. Tetapi memahami asimetri ini mengubah cara saya melihat risiko. Ini jadi penyeimbang yang berguna terhadap nasihat "taruh saja semuanya di market" yang sering terdengar.

Dari pengalaman saya, inti pelajarannya sederhana: melindungi diri dari kerugian besar lebih penting daripada mengejar keuntungan besar. Rugi 10% hanya butuh naik 11% untuk pulih, masih realistis. Rugi 50% butuh 100%, yang bisa memakan waktu bertahun-tahun. Matematika ini sangat tidak memaafkan saat kerugian makin besar.

Apa yang saya lakukan dengan pemahaman ini

Saya masih sangat belajar dalam investasi (sangat mungkin saya salah dalam banyak hal), tetapi asimetri ini membuat saya lebih condong ke broad index fund seperti VTI atau VXUS daripada memilih saham individual. Index fund bisa turun, tentu, tetapi hampir mustahil turun ke nol, sehingga Anda tetap berada di zona "kerugian yang masih bisa dipulihkan" pada grafik di atas. Saham individual bisa dan memang ada yang turun 80-90%, dan di titik itu matematikanya hampir mustahil dikejar. Konsep asimetri kerugian ini selalu saya ingat setiap kali tergoda mengambil risiko lebih besar dari yang seharusnya :P

Apakah asimetri ini pernah "menggigit" Anda juga? Saya ingin mendengar bagaimana orang lain mengelola risiko downside.

Salam,

Chandler

Lanjutkan Membaca

Perjalanan Saya
Terhubung
Bahasa
Preferensi