Skip to content
··2 menit baca

Komunikasi yang candid adalah tanda jelas tim berkinerja tinggi

Kalau semua orang di ruangan hanya mengiyakan orang paling senior, tim Anda tidak sedang mencari ide terbaik. Anda sedang membangun budaya diam.

Halo, topik hari ini dekat sekali dengan hati saya karena menurut saya ini sangat penting untuk tim yang benar-benar berfungsi baik.

Komunikasi candid (jujur dan terbuka) terjadi ketika tim bisa bebas berbagi, berdiskusi, bahkan berdebat tentang suatu proyek. Mereka tidak perlu menahan diri atau otomatis mengikuti opini orang paling senior/paling berpengaruh di ruangan.

Tentu ini bukan izin untuk jadi a**h****, dan bukan soal menyerang personal. Semua orang sedang berusaha menemukan solusi terbaik dan mencapai alignment.

Saya yakin kita semua pernah ada di meeting yang katanya "diskusi", tapi pada akhirnya semua orang hanya setuju dengan apa pun yang dikatakan orang paling senior. Begitu saya melihat pola itu, saya tahu ini bukan tim yang hebat.

Begitu juga kalau Anda bekerja di service industry, lalu Anda tidak bisa menyampaikan ketidaksetujuan secara candid terhadap opini/ide klien dan hanya bilang "yes". Itu bukan tanda relasi yang sehat.

Saya sangat suka cara Ed Catmull menjelaskan komunikasi candid di buku best seller-nya, "Creativity, Inc.: Overcoming the Unseen Forces That Stand in the Way of True Inspiration". Kalau ada waktu, saya sangat menyarankan Anda membacanya.

Kenapa komunikasi candid penting untuk tim berkinerja tinggi?

Anda tidak akan bisa memunculkan ide terbaik atau mengeksekusinya jika komunikasi candid tidak ada.

Bahkan bisa lebih parah: Anda membentuk kesimpulan yang salah tentang orang, tugas, atau proyek karena tidak ada yang berani mengontradiksi opini Anda di meeting. Semua orang hanya mendengar ide Anda karena Anda orang paling senior di ruangan.

Seiring waktu, Anda akan melihat anggota tim berhenti terbuka dan berhenti benar-benar berbagi pendapat. Kenapa mereka harus bicara kalau ujungnya tidak berpengaruh?

Diskusi nyata jadi makin sulit terjadi. Budaya negatif ini juga bisa menular ke anggota tim lain. Sebelum Anda sadar, fresh graduate di tim pun ikut-ikutan hanya patuh pada orang yang bahkan cuma 6 bulan lebih senior, karena dia merasa tidak aman untuk speak up.

Kualitas kerja dan budaya tim pelan-pelan menurun dari situ.

Jadi bagaimana membangun komunikasi candid?

Saya bukan ahli di area ini, tapi ini beberapa ide dari saya.

Budaya komunikasi candid paling efektif dimulai dari atas. Kalau Anda people manager, jadilah komunikator yang candid, dengarkan ide tim, dan apresiasi orang yang "berani" bicara di meeting.

Untuk meeting penting, pertimbangkan pakai fasilitator dan benar-benar beri dia kewenangan memfasilitasi, supaya semua orang punya kesempatan bicara, semua ide dipertimbangkan atau setidaknya masuk parking lot.

Komunikasi candid membutuhkan tingkat psychological safety yang tinggi di tim.

Semua orang takut dianggap bicara bodoh dan dihakimi. Public shame adalah salah satu ketakutan terbesar manusia. Percayalah, saya juga pernah merasakan itu.

Saat seseorang merasa insecure, dia bisa mulai berpikir: kalau saya komentar "bodoh" lalu apa akibatnya? Apa dampaknya ke promosi/kenaikan gaji yang sedang saya kejar?

Untuk alasan itulah, saya pikir agar sebuah grup bisa punya komunikasi candid, tiap anggota tim perlu punya self-worth yang kuat dan rasa nyaman satu sama lain.

Tentu akan lebih mudah kalau perusahaan Anda memang menghargai komunikasi candid. Tapi kalau belum, tetaplah jadi change agent di tim kecil Anda sendiri.

Budaya ini biasanya butuh waktu lama dan kerja keras untuk dibangun, tapi komunikasi candid akan membantu Anda membentuk tim berkinerja tinggi.

Itu saja dari saya.

Salam, Chandler

Lanjutkan Membaca

Perjalanan Saya
Terhubung
Bahasa
Preferensi